Sabtu, 17 Juli 2010

makalah tentang perilaku organisasi

KATA PENGANTAR


Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatnya kepada kita semua. Sebagai rahmat itu berupa kesehatan baik kesehatan jasmani maupun kesehatan Rohani yang senantiasa kita pelihara dengan cara berpikir positif dan membaca buku yang berbobot.
Atas ridhonya saya dapat menyusun suatu tugas makalah ini.
Besar Harapan saya agar makalah ini dapat membantu meningkatkan prestasi belajar. Dalam usaha saya yang maksimal saya menyadari bahwa tidak ada gading yang tak retak dan bukanlah gading kalau tidak retak oleh Karena itu dengan segala kerendahan hati mohon saran dan kritik demi kesempurnaan makalah saya ini.

Penyusun










DAFTAR ISI

Kata pengantar 1
Daftar isi 2
BAB 1 LATAR BELAKANG 3
1.1 Latar Belakang 3
BAB 2 PENDAHULUAN 4
2.1 Landasan Teori 4
2.2 Tinjauan Umum 5
BAB 3 PEMBAHASAN 6
3.1 Sejarah 6
3.2 Organisasi Proyek Matriks 7
3.3 Komitmen Organisasi 7
3.4 Kepemimpinan 8
3.5 Teori X dan Teori Y 9
3.6 Struktur Organisasi 9
3.7 Departementalisasi 11
3.8 Budaya Organisasi 12
BAB 4 PENUTUP 14
4.1 Kesimpulan 14
4.2 Tanggapan 14
Daftar Pustaka 15

BAB 1
LATAR BELAKANG


1.1 LATAR BELAKANG
Salah satu usaha membangun kehidupan berbangsa sangat pula ditentukan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, oleh karena itu diperlukan usaha-usaha masyarakat yang secara sadar mampu mengubah sikap dan perilaku dalam proses apa yang kita sebut mengintergrasikan niat kepentingan kemiteraan sebagai salah satu mengangkat derajat manusia.
Kita menyadari sepenuhnya membangun suatu kebiasaan baru bukanlah sesuatu yang gampang untuk dilaksanakan, disitulah letak kunci bagaimana sebaiknya kita mengungkit kekuatan berpikir baik secara methodis (otak dan hati) maupun secara non-methodis (hati).
Kebangkitan kekuatan pikiran dalam usaha untuk melaksanakan perubahan sikap dan perilaku dimulai dengan semangat niat yang mendorong membangun keinginan yang untuk menopang penguasaan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan.
Sejalan dengan pemikiran diatas, maka membangun organisasi kemiteraan sebagai solusi agar kita bersama-sama mendorong satu kebersamaan dalam proses berpikir untuk memanfaatkan perubahan yang didorong oleh pemahaman kemiteraan dari satu pendekatan menguraikan kata kemietaraan menjadi bermakna.
Dengan pemahaman tersebut diharapkan mendorong usaha membangun organisasi kemiteraan sebagai alat untuk berkarya dalam kebersamaan mewujudkan kebiasaan yang produktif melalui proses intergrasi kepentingan.



BAB 2
PENDAHULUAN


2.1 LANDASAN TEORI
Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah unt tujuan bersama . Baik dalam penggunaan sehari-hari maupun ilmiah, istilah ini digunakan dengan banyak cara.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisa organisasi (organization analysis). Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda.
Pengorganisasian (Organizing) adalah proses pengaturan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dengan memperhatikan lingkungan yang ada.
Struktur Organisasi adalah susunan dan hubungan-hubungan antar komponen bagian-bagian dan posisi-posisi dalam suatu perusahaan
Pengertian Istilah Organisasi menurut tokoh:
1. Organisasi Menurut Stoner
Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
2. Organisasi Menurut James D. Mooney
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3. Organisasi Menurut Chester I. Bernard
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.



2.2 Tinjauan umum
Studi organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.
Seperti halnya dengan semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi industri) kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.

Dua aspek utama proses penyusunan struktur organisasi

• Pertama Departementalisasi yaitu pengelompokan kegiatan-kegiatan kerja suatu organisasi agar kegiatan-kegiatan yang sejenis dan saling berhubungan dapat dikerjakan bersama. Hal ini akan tercermin pada struktur formal suatu organisasi, dan tampak atau ditunjukkan oleh suatu bagan organisasi.
• Pembagian kerja adalah pemerincian tugas pekerjaan agar setiap individu dalam organisasi bertanggung jawab untuk dan melaksanakan sekumpulan kegiatan yang terbatas.

Aspek-aspek penting dalam organisasi dan proses pengorganisasian, yaitu:
1. Pembagian kerja (Devision of labor)
2. Departementalisasi
3. Bagan organisasi formal
4. Rantai perintah dan kesatuan perintah
5. Tingkat-tingkat hirarki manajemen
6. Saluran komunikasi
7. Penggunaan komite
8. Rentang manajemen dan kelompok-kelompok informal yang tak dapat dihindarkan.

BAB 3
PEMBAHASAN


3.1 SEJARAH
Meskipun studi ini menelusuri akarnya kepada Max Weber dan para pakar yang sebelumnya, studi organisasi biasanya dianggap baru dimulai sebagai disiplin akademik bersamaan dengan munculnya manajemen ilmiah pada tahun 1890-an, dengan Taylorisme yang mewakili puncak dari gerakan ini. Para tokoh manajemen ilmiah berpendapat bahwa rasionalisasi terhadap organisasi dengan rangkaian instruksi dan studi tentang gerak-waktu akan menyebabkan peningkatan produktivitas. Studi tentang berbagai sistem kompensasi pun dilakukan.
Setelah Perang Dunia I, fokus dari studi organisasi bergeser kepada analisis tentang bagaimana faktor-faktor manusia dan psikologi mempengaruhi organisasi. Ini adalah transformasi yang didorong oleh penemuan tentang Dampak Hawthorne. Gerakan hubungan antar manusia ini lebih terpusat pada tim, motivasi, dan aktualisasi tujuan-tujuan individu di dalam organisasi.
Para pakar terkemuka pada tahap awal ini mencakup:
• Chester Barnard
• Henri Fayol
• Mary Parker Follett
• Frederick Herzberg
• Abraham Maslow
• David McClelland
• Victor Vroom
Perang Dunia II menghasilkan pergeseran lebih lanjut dari bidang ini, ketika penemuan logistik besar-besaran dan penelitian operasi menyebabkan munculnya minat yang baru terhadap sistem dan pendekatan rasionalistik terhadap studi organisasi.
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, bidang ini sangat dipengaruhi oleh [[psikologi sosial[[ dan tekanan dalam studi akademiknya dipusatkan pada penelitian kuantitatif.
Sejak tahun 1980-an, penjelasan-penjelasan budaya tentang organisasi dan perubahan menjadi bagian yang penting dari studi ini. Metode-metode kualitatif dalam studi ini menjadi makin diterima, dengan memanfaatkan pendekatan-pendekatan dari antropologi, psikologi dan sosiologi.
3.2 ORGANISASI PROYEK DAN MATRIKS
A. Bentuk organisasi proyek dan matriks adalah tipe departementalisasi campuran (hybrid design).
Struktur organisasi proyek. Departementalisasi proyek menyangkut pembentukan tim-tim, spesialis, yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan khusus.
Seorang manajer proyek mempunyai wewenang lini memimpin para anggota tim selama jangka waktu proyek. Bila proyek selesai tim dibubarkan dan para anggota tim kembali ke departemen departemen fungsional asalnya, sampai proyek baru.

B. Struktur proyek dan matriks bermaksud untuk mengkombinasikan kebaikan-kebaikan kedua tipe disain fungsional dan devisional dengan menghidarkan kekurangan-kekurangannya.
Struktur organisasi matriks. Departementalisasi matriks adalah sama dengan departementalisasi proyek dengan satu perbedaan pokok. Dalam struktur matriks, para karyawan mempunyai dua atasan – sehingga mereka berada dibawah dua wewenang. Rantai perintah pertama adalah fungsional atau divisional.

3.3 KOMITMEN ORGANISASI
Komitment organisasi adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Menurut Stephen P. Robbins didefinisikan bahwa keterlibatan pekerjaaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Dalam organisasi sekolah guru merupakan tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan siswa, maka guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mampu menjalankan kebijakan-kebijakan dengan tujuan-tujuan tertentu dan mempunyai komimen yang kuat terhadap sekolah tempat dia bekerja.

3.4 KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan, dan juga pimpinan itu dalam menciptakan motivasi dalam diri setiap orang bawahan, kolega, maupun atasan pimpinan itu sendiri.
Gaya kepemimpinan
1. Otokratis. Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya. Jadi kekuasaanlah yang sangat dominan diterapkan.
2. Demokrasi. Gaya ini ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah kepemimpinan demokratis cenderung bermoral tinggi dapat bekerjasama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
3. Gaya kepemimpinan kendali bebas. Pemimpin memberikan kekuasan penuh terhadap bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif.
3.5 Teori X dan Teori Y
Teori X dan Teori Y diungkapkan oleh Douglas McGregor yang mengemukakan strategi kepemimpinan efektif dengan menggunakan konsep manajemen partisipasi. Konsep terkenal dengan menggunakan asumsi-asumsi sifat dasar manusia. Pemimpin yang menyukai teori X cenderung menyukai gaya kepemimpinan otoriter dan sebaliknya, seorang pemimpin yang menyukai teori Y lebih menyukai gaya kepemimpinan demokratik. Untuk kriteria karyawan yang memiliki tipe teori X adalah karyawan dengan sifat yang tidak akan bekerja tanpa perintah, sebaliknya karyawan yang memiliki tipe teori Y akan bekerja dengan sendirinya tanpa perintah atau pengawasan dari atasannya. Tipe Y ini adalah tipe yang sudah menyadari tugas dan tanggung jawab pekerjaannya.

3.6 STRUKTUR ORGANISASI
Unsur-unsur struktur organisasi :
1. Spesialisasi kegiatan,
2. Standardisasi kegiatan,
3. Sentralisasi atau desetralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja.
4. Ukuran satuan kerja
Faktor-faktor utama yang menentukan perancangan struktur organsasi.
1. Strategi organisasi untuk mencapai tujuannya.
2. Teknologi yang digunakan
3. Anggota (karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi.
4. Ukuran organisasi
Contoh bagan organisasi :
Struktur Sederhana




• Pemilik-Manajer membuat semua keputusan penting secara langsung dan mengawasi semua kegiatan
• Sulit mempertahankan struktur ini ketika perusahaan tumbuh dalam hal ukuran dan kompleksitas
Struktur Fungsional



Struktur Fungsional

• Satu tingkat di atas Struktur Sederhana
• Cocok untuk perusahaan dengan usaha tunggal atau dominan
• Memungkinkan spesialisasi tugas
* Produksi * Akuntansi
* Teknik * Sales & Pemasaran
* Keuangan * SDM
• Mengatasi keterbatasan pemrosesan informasi pemilik/manajer tunggal
• Kepala bagian fungsional bertanggung jawab kepada CEO yang menggabungkan keputusan dan tindakan dari sudut pandang perusahaan secara keseluruhan
• Risiko konflik antar tugas manajer yang tidak jelas


Struktur Multi-Divisional



3.7 DEPARTEMENTALISASI

Efisiensi aliran pekerjaan tergantung pada keberhasilan integrasi satuan-satuan yang bermacam-macam dalam organisasi. Pembagian kerja dan kombinasi tugas seharusnya mengarah ke tercapainya struktur-struktur departemen dan satuan-satuan kerja.

Dasar bentuk departementalisasi
1. Fungsi: pemasaran, akuntansi, produksi, atau keuangan.
2. Produk dan jasa: devisi mesin cuci, lemari es, televisi dll.
3. Wilayah: divisi medan, banda aceh, padang dll
4. Langganan: penjualan industri, pedagang eceran, pemerintahan, militer atau konsumen.
5. Proses atau peralatan: departemen pemotongan, perakitan, pembungkusan, dan finishing.
6. Waktu: kelompok dibagi atas shift pertama, kedua, dan ketiga.
7. Pelayanan: bisa mencerminkan kelas bisnis, ekonomi dan turis.
8. Alpha-numerical
9. Proyek dan Matriks: digunakan oleh perusahaan konstruksi dengan teknologi tinggi, konsultan, orientasi-energi.

Depatementalisasi Fungsional
Depatementalisasi fungsional mengelompokkan fungsi-fungsi yang sama atau kegiatan-kegiatan sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi.
Organisasi fungisonal merupakan bentuk yang paling umum dan bentuk dasar departementalisasi .

Departementalisasi Divisional
Departemntalisasi divisional digunakan pada perusahaan besar dengan banyak jenis produk.
Organisasi divisional dapat mengikuti pembagian divisi-divisi atas dasar produk, wilayah (gografis), langganan, dan proses atau peralatan.


3.8 BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi adalah seperangkat nilai-nilai, keyakinan dan sikap utama yang di berlakukan di antara organisasi. Budaya organisasi sering kali diciptakan oleh pendiri perusahaan , kemudian di pertahankan dengan cara memberi tahukan riwayat organiasasi.
Pada budaya yang medorong tingkat keterlibatan karyawan lebih tinggi dalam mengambil keputusan. Karyawan akan memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab yang lebih besar. Sebagai contoh : di Hewlett-Packard, para manajer dan karyawan diberikan tingkat otonomi, kepercayaan dan tanggung jawab yang tinggi. Perusahaan di susun menjadi kelompok terpusat yang diberi wewenang desentralisasi dan “memiliki” usah sendiri. Setiap “usaha” seperti mesin cetak laser, mesin hitung atau computer pribadi, dapat mengambil keputusan sendiri.



BAB 4
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Perilaku organisasi saat ini merupakan bidang studi yang berkembang. Jurusan studi organisasi pada umumnya ditempatkan dalam sekolah-sekolah bisnis, meskipun banyak universitas yang juga mempunyai program psikologi industri dan ekonomi industri pula.
Bidang ini sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dengan para praktisi seperti Peter Drucker dan Peter Senge yang mengubah penelitian akademik menjadi praktik bisnis. Perilaku organisasi menjadi semakin penting dalam ekonomi global ketika orang dengan berbagai latar belakang dan nilai budaya harus bekerja bersama-sama secara efektif dan efisien. Namun bidang ini juga semakin dikritik sebagai suatu bidang studi karena asumsi-asumsinya yang etnosentris dan pro-kapitalis.

4.2 TANGGAPAN
Hidup tak lepas hubungannya dengan organisasi. Sejak SD saya sudah mengenal organisasi tetapi pengertian organisasi hanya sebatas sekelompok orang yang mempunyai tugas tertentu tetapi mempunyai tujuan yang sama. Sewaktu SD saya mengenal organisasi pertama kali yaitu organisasi dokter kecil, organisasi yang tujuannya merawat murid-murid yang sakit di sekolah. Pemikiran saya tentang organisasi semakin berkembang hingga saat ini.
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan organisasi adalah mempengaruhu perilaku individu kelompok sehingga mencapai prestasi yang efektif. Pengorganisasian merupakan Merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya, lingkungan yang melingkupinya.
Organisasi juga mengelompokkan kegiatan-kegiatannya, dimana setiap pengelompokkan di ikuti dengan penugasan seorang manajer yang di beri wewenang untuk mengawasi anggota-anggota kelompokan. Oleh karena itulah organisasi memerlukan pimpinan yang mempunyai sifat manajerial yang baik. Organisasi mempunyai rantai perintah yang tersusun dari atas kebawah yaitu direktur, wakil direktur, manajer divisi, manajer departemen, kepala penyelia (superintendent), penyelia, dan karyawan.. mengapa sebuah organisasi harus mempunyai pimpinan yang memiliki sifat manajerial yang baik…? Karena produktivitas yang dihasilkan karyawan bergantung dengan pimpinan. Pimpinan harus bisa memberikan contoh yang baik terhadap karyawannya, harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan karyawan, tidak menganggap sepele karyawan, memberikan tanggung jawab dan wewenang terhadap karyawan, memberikan kebebasan karyawan untuk mengambil keputusan sendiri serta banyak lagi hal yang bisa dilakukan pimpinan untuk mempengaruhi karyawan agar bekerja labih baik. Dengan begitu akan tercipta organisasi yang sehat, yang memiliki pimpinan dan karyawan yang bekerja karena tanggung jawab bukan karena gaji/upah.
Manajemen mempunyai kepentingan sendiri dalam organisasi. Semua karayawan tentu demikian, tetapi manajemen bertanggungjawab terhadap organisasi secara keseluruhan, suatu tanggungjawab yang sering kali mengharuskan dia menghadapi berbagai pihak yang berkepentingan dan menyeimbangkan tuntutan yang saling bertentangan. Para pemegang saham misalnya, ingin pendapatan yang lebih besar, sementara pelanggan manginginkan investasi yang lebih besar untuk penelitian dan pengembangan: karyawan ingin gaji yang lebih tinggi dan tunjangan yang lebih baik. Masyarakat setempat menginginkan adanya taman dan fasilitas pelayanan sehari-hari. Untuk memastikan organisasi teap dapat bertahan, manajemen harus mengupayakan hubungan diantara pihak yang berkepentingan tetap seimbang dalam jangka pendek maupun jangka panjang.



DAFTAR PUSTAKA

James A.F Stoner, R. Edward F. MANAJEMEN JILID 1, PT. Prenhallindo, 1996, New Jersey.
Robert Kreitner, Angelo Kinicki, Perilaku Organisasi . salemba 4, 2001, Jakarta.
www.google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar